Ketika pulang sekolah, anak-anak sering terluka. Terutama anak laki-laki, dan yang paling sering terjadi adalah “luka hati” yang disebabkan oleh ejekan anak lain ketika di sekolah. Anak-anak perlu perlindungan, dan ketika terjadi kasus bullying siapakah yang melindungi
anak-anak ini dan mengapa semua orang seolah mendiamkan perilaku buruk berlangsung di sekolah. Tanggung jawab siapa jika ada seorang siswa yang terluka perasaannya, lalu menangis dan memutuskan keesokkan harinya tidak akan masuk sekolah lagi disebabkan
anak-anak lain memanggilnya “pincang” misalnya?
Hampir di semua sekolah, bullying terjadi, dan hampir di semua sekolah tidak memberi
sanksi perilaku bullying dan menggapnya sebagai bagian dari “fakta yang harus diterima”. Bahkan ada juga yanag menyebutnya sebagai “ujian mental”. Apakah tidak ad acara lain yang bisa diterima, untuk menguji mental seseorang tanpa harus mem-bully? Bagaimana menghentikan sikap saling mengejek di dalam kelas? Bagaimana mengajarkan bahwa perilaku santun, berbicara yang baik, memanggil dengan panggilan yang baik, harus
diupayakan dan dibiasakan agar anak-anak menjadi pribadi berakhlak mulia.
Penting untuk mengangkat pelajaran bertema “bullying” dan melakukan pendekatan yang dapat dipahami siswa, terutama anak-anak kecil. Karena pendidikan karakter, akan lebih mudah dilakukan jika anak-anak masih kecil, dengan membiasakan mereka untuk mengatakan yang baik-baik saja, atau kalau tidak memiliki hal baik untuk dibicarakan
maka lebih baik diam.
Angkatlah tema “bullying” dengan bercerita tentang kejadian nyata yang pernah terjadi di kelas. Guru sebaiknya melakukan observasi dahulu, dan menindaklanjuti setiap
pengaduan siswa terhadap perasaan mereka lalu mengangkat tema tersebut
di dalam kelas.
Contoh :
“Apakah kalian tahu mengapa Renny tidak masuk kelas hari ini?
Reny tidak masuk kelas karena sakit.
Mengapa Reny sakit? Karena anak-anak lain memanggilnya ‘pincang’. Reny menangis
ketika pulang sekolah karena terlalu sedih mendengar kata-kata ‘pincang’. Meskipun Reny pincang kakinya, dia tidak ingin dipanggil seperti itu karena itu sangat menyakitkan.
Reny tidak dapat berjalan sempurna disebabkan ketika berusia 2 tahun, dia terjatuh dari
tangga hingga kakinya patah. Darah menggenang dimana-mana, dan Ibunya panik karena mengira Reny meninggal. Ketika dokter mengatakan bahwa Renymasih hidup tapi mungkin akan mengalami cacat seumur hidup, Ibu Reny sangat sedih mendengarnya. Tapi dia bersyukur karena Reny masih hidup.”
Berikan kepada anak-anak soal dari masalah di atas (berdasarkan kisah nyata yang terjadi di kelas) untuk didiskusikan di dalam kelas.
1. Jika kamu tidak dapat berjalan seperti Reny, lalu teman-temanmu memanggilmu pincang, apa yang kamu rasakan?
2. Apakah kamu pernah terjatuh hingga berdarah lalu dibawa ke rumah sakit?
3. Bagaimana rasanya jika kakimu berdarah karena jatuh?
4. Apakah menurutmu keadaan Reny itu sangat menyedihkan karena dia jatuh lalu berdarah sampai dia tidak dapat berjalan normal untuk selamanya?
5. Apakah mengatakan kalau Reny pincang itu merupakan hal yang baik?
6. Apakah besok kamu akan memanggil Reny dengan ‘pincang’ lagi setelah mengetahui hal ini?
7. Apakah kamu ingin Reny masuk sekolah lagi?
8. Apakah kamu kasihan dengan Reny?
9. Dst.
Bahas semua pertanyaan-pertanyaan tersebut di kelas, dan ajarkan anak-anak tentang cara berempati dengan keadaan orang lain. Mengangkat tema kisah nyata di kelas, merupakan sarana menarik untuk mengajarkan moral/akhlak. Anak-anak akan langsung mendengar kejadian nyata di sekitar mereka. Giringlah mereka untuk mengambil keputusan-keputusan
yang tepat.
Bagaimana dengan mengajarkan membaca di kelas?
Mengajarkan materi membaca pada anak-anak TK bukan persoalan gampang, karena anak-anak TK ini rata-rata otaknya belum cukup berkembang. Bagi anak-anak yang otaknya belum berkembang ini sebaiknya metode yang digunakan juga “ramah” dengan otak mereka. Jangan memberikan beban berlebihan pada materinya, dan perlu ditambah denganpermainan yang disukai anak.
Mengapa diperlukan teknik khusus? Sebab symbol (huruf) merupakan hal abstrak bagi anak-anak. Pertama kali mencoba, jangan pernah mengenalkan banyak kartu, cukup 5 kartu dulu sebagai tahappermulaan. Lalu ketika anak menguasai 5 kartu ini, tingkatkan kesulitan materinya dengan menambahkan 1 kartu lagi untuk dihafal. Dengan materi yang mudah, dan game yang mudah, maka anak-anak akan merasa enjoy ketika belajar. Dan efeknya, belajar jadi terasa seperti bermain. Simak testimony dari Bunda Adzra yang setiap hari merasa diteror ABACA disebabkan anaknya yang bernama Adzra kecanduan seri panen es krim dan stroberi, tingkat dewa .
Simak testimony Bunda Adzra yang merasa kewalahan, disebabkan Adzra kecanduan ABACA. Bahkan ketika Bundanya mau mandi, mau mencuci, dll., Adzra selalu meminta waktu untuk bermain ABACA. Setiap hari, tiada hari tanpa ABACA. Semangatnya yang luar biasa ini, akhirnya membuat progress Adzra luar biasa. Lulus seri 1 hanya perlu waktu SEMINGGU dan lulus seri 2 hanya perlu waktu SEMALAM. Luar biasa bukan. Untuk seri 3, sementara
masih disembunyikan sama Bunda Adzra karena mau refreshing dulu Bundanya hehehe, padahal Adzra sudah tidak tahan mau main ABACA seri 3 juga.
Terima kasih kepada Ummu Adzra, sang pemberi testimony, serta Bunda Nila Kartika (Agen ABACA Flashcard) yang telah memberitahukan testimony ini melalui tagging di facebook.
Diena Ulfaty
Produsen, Owner dan Penemu ABACA Flashcard
Dapatkan semua seri ABACA Flashcard di seluruh agen dan distributor resmi ABACA Flashcard
anak-anak ini dan mengapa semua orang seolah mendiamkan perilaku buruk berlangsung di sekolah. Tanggung jawab siapa jika ada seorang siswa yang terluka perasaannya, lalu menangis dan memutuskan keesokkan harinya tidak akan masuk sekolah lagi disebabkan
anak-anak lain memanggilnya “pincang” misalnya?
Hampir di semua sekolah, bullying terjadi, dan hampir di semua sekolah tidak memberi
sanksi perilaku bullying dan menggapnya sebagai bagian dari “fakta yang harus diterima”. Bahkan ada juga yanag menyebutnya sebagai “ujian mental”. Apakah tidak ad acara lain yang bisa diterima, untuk menguji mental seseorang tanpa harus mem-bully? Bagaimana menghentikan sikap saling mengejek di dalam kelas? Bagaimana mengajarkan bahwa perilaku santun, berbicara yang baik, memanggil dengan panggilan yang baik, harus
diupayakan dan dibiasakan agar anak-anak menjadi pribadi berakhlak mulia.
Penting untuk mengangkat pelajaran bertema “bullying” dan melakukan pendekatan yang dapat dipahami siswa, terutama anak-anak kecil. Karena pendidikan karakter, akan lebih mudah dilakukan jika anak-anak masih kecil, dengan membiasakan mereka untuk mengatakan yang baik-baik saja, atau kalau tidak memiliki hal baik untuk dibicarakan
maka lebih baik diam.
Angkatlah tema “bullying” dengan bercerita tentang kejadian nyata yang pernah terjadi di kelas. Guru sebaiknya melakukan observasi dahulu, dan menindaklanjuti setiap
pengaduan siswa terhadap perasaan mereka lalu mengangkat tema tersebut
di dalam kelas.
Contoh :
“Apakah kalian tahu mengapa Renny tidak masuk kelas hari ini?
Reny tidak masuk kelas karena sakit.
Mengapa Reny sakit? Karena anak-anak lain memanggilnya ‘pincang’. Reny menangis
ketika pulang sekolah karena terlalu sedih mendengar kata-kata ‘pincang’. Meskipun Reny pincang kakinya, dia tidak ingin dipanggil seperti itu karena itu sangat menyakitkan.
Reny tidak dapat berjalan sempurna disebabkan ketika berusia 2 tahun, dia terjatuh dari
tangga hingga kakinya patah. Darah menggenang dimana-mana, dan Ibunya panik karena mengira Reny meninggal. Ketika dokter mengatakan bahwa Renymasih hidup tapi mungkin akan mengalami cacat seumur hidup, Ibu Reny sangat sedih mendengarnya. Tapi dia bersyukur karena Reny masih hidup.”
Berikan kepada anak-anak soal dari masalah di atas (berdasarkan kisah nyata yang terjadi di kelas) untuk didiskusikan di dalam kelas.
1. Jika kamu tidak dapat berjalan seperti Reny, lalu teman-temanmu memanggilmu pincang, apa yang kamu rasakan?
2. Apakah kamu pernah terjatuh hingga berdarah lalu dibawa ke rumah sakit?
3. Bagaimana rasanya jika kakimu berdarah karena jatuh?
4. Apakah menurutmu keadaan Reny itu sangat menyedihkan karena dia jatuh lalu berdarah sampai dia tidak dapat berjalan normal untuk selamanya?
5. Apakah mengatakan kalau Reny pincang itu merupakan hal yang baik?
6. Apakah besok kamu akan memanggil Reny dengan ‘pincang’ lagi setelah mengetahui hal ini?
7. Apakah kamu ingin Reny masuk sekolah lagi?
8. Apakah kamu kasihan dengan Reny?
9. Dst.
Bahas semua pertanyaan-pertanyaan tersebut di kelas, dan ajarkan anak-anak tentang cara berempati dengan keadaan orang lain. Mengangkat tema kisah nyata di kelas, merupakan sarana menarik untuk mengajarkan moral/akhlak. Anak-anak akan langsung mendengar kejadian nyata di sekitar mereka. Giringlah mereka untuk mengambil keputusan-keputusan
yang tepat.
Bagaimana dengan mengajarkan membaca di kelas?
Mengajarkan materi membaca pada anak-anak TK bukan persoalan gampang, karena anak-anak TK ini rata-rata otaknya belum cukup berkembang. Bagi anak-anak yang otaknya belum berkembang ini sebaiknya metode yang digunakan juga “ramah” dengan otak mereka. Jangan memberikan beban berlebihan pada materinya, dan perlu ditambah denganpermainan yang disukai anak.
Mengapa diperlukan teknik khusus? Sebab symbol (huruf) merupakan hal abstrak bagi anak-anak. Pertama kali mencoba, jangan pernah mengenalkan banyak kartu, cukup 5 kartu dulu sebagai tahappermulaan. Lalu ketika anak menguasai 5 kartu ini, tingkatkan kesulitan materinya dengan menambahkan 1 kartu lagi untuk dihafal. Dengan materi yang mudah, dan game yang mudah, maka anak-anak akan merasa enjoy ketika belajar. Dan efeknya, belajar jadi terasa seperti bermain. Simak testimony dari Bunda Adzra yang setiap hari merasa diteror ABACA disebabkan anaknya yang bernama Adzra kecanduan seri panen es krim dan stroberi, tingkat dewa .
Simak testimony Bunda Adzra yang merasa kewalahan, disebabkan Adzra kecanduan ABACA. Bahkan ketika Bundanya mau mandi, mau mencuci, dll., Adzra selalu meminta waktu untuk bermain ABACA. Setiap hari, tiada hari tanpa ABACA. Semangatnya yang luar biasa ini, akhirnya membuat progress Adzra luar biasa. Lulus seri 1 hanya perlu waktu SEMINGGU dan lulus seri 2 hanya perlu waktu SEMALAM. Luar biasa bukan. Untuk seri 3, sementara
masih disembunyikan sama Bunda Adzra karena mau refreshing dulu Bundanya hehehe, padahal Adzra sudah tidak tahan mau main ABACA seri 3 juga.
Terima kasih kepada Ummu Adzra, sang pemberi testimony, serta Bunda Nila Kartika (Agen ABACA Flashcard) yang telah memberitahukan testimony ini melalui tagging di facebook.
Diena Ulfaty
Produsen, Owner dan Penemu ABACA Flashcard
Dapatkan semua seri ABACA Flashcard di seluruh agen dan distributor resmi ABACA Flashcard
No comments:
Post a Comment